Laporan keberlanjutan untuk sektor energi – Hal yang paling penting dalam strategi manajemen adalah membangun nilai atau reputasi yang baik dimata stakeholders melalui konsep pembangunan berkelanjutan dan tanggung jawab sosial. Pengungkapan informasi baik dari aspek finansial maupun non finansial dalam sebuah laporan merupakan kebutuhan perusahaan yang kemudian disampaikan dan di nilai oleh stakeholders. Untuk kebutuhan informasi finansial telah dipenuhi oleh laporan keuangan yang disusun oleh sistem akunting.

Dalam konsep pembangunan berkelanjutan, isu lain yang juga penting adalah melaporkan area-area yang tidak berwujud fisik akan tetapi berhubungan dengan asset non finansial perusahaan. Solusi untuk melaporkan area-area yang tidak berwujud fisik ini berfokus pada laporan keberlanjutan yang menggunakan standar dari Global Reporting Initiative (GRI).

Pentingnya Sektor Energi Bagi Perekonomian

langkah penyusunan laporan keberlanjutan sektor energiSektor energi, merupakan salah satu kekuatan ekonomi nasional dan menjadi sektor penggerak perkembangan suatu negara. Dampak sektor energi bagi perekonomian dapat mempengaruhi berbagai aspek, antara lain aspek keuangan, fiskal, kesejahteraan dan lingkungan.

Karena pentingnya peran sektor energi dalam perekonomian suatu negara, perusahaan dengan sektor energi harus fokus tidak hanya membangun nilai dan reputasi yang baik akan tetapi juga meningkatkan nilai dan reputasi perusahaan. Konsekuensinya adalah perusahaan harus mempertimbangkan nilai dari seluruh stakeholders, yaitu pemegang saham, pemilik, anggota, dewan manajemen, pelanggan dan karyawan dan juga lembaga keuangan dan investor. Semua aktivitas perusahaan harus sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan tanggung jawab sosial. Maka dari itu, penting untuk perusahaan juga menyediakan laporan keberlanjutan untuk sektor energi.

Fokus Utama Laporan Keberlanjutan di Indonesia

Berdasarkan penelitian EY Indonesia, fokus utama laporan keberlanjutan di Indonesia terdiri dari enam aspek, yaitu:

  1. Inisiatif Internasional

Indonesia turut bergabung dalam langkah inisiatif praktis Sustainable Development Goals (SDGs) dan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Hal ini menimbulkan inisiatif di tingkat internasional yang diharapkan dapat mendukung pembangungan perusahaan secara berkesinambungan.

Fokus utama dari UNFCCC adalah kondisi lingkungan hidup yang berdasarkan kesepakatan secara global, setiap negara harus membatasi kenaikan temperature maksimal 1.5 derajat celcius pada tahun 2030. Hal ini menjadi target bagi perusahaan Indonesia agar dapat meminimalkan hasil limbah sehingga dapat mengurangi emisi Indonesia hingga 29%.

  1. Global Reporting Initiative (GRI)

GRI saat ini banyak digunakan sebagai standar bagi perusahaan untuk membuat laporan berkelanjutan. Pada tahun 2015, GRI membentuk Global Sustainability Standard Board (GRI GSSB) yang secara spesifik menangani pengembangan standar laporan keberlanjutan. GRI GSSB kemudian memperkenalkan GRI Standards yang berlaku tahun 2018.

GRI Standards membawa perubahan signifikan dalam struktur dokumen dan penggunaan bahasa. GRI Standards menggunakan skema dokumen modular dengan total 36 modul. Setiap modul dapat ditambah, dikurangi atau diubah kapan saja sesuai dengan dinamika aspek keberlanjutan. Dari segi Bahasa, GRI Standards mengubah penggunaan kata dan gaya bahasa sehingga lebih mudah dimengerti oleh stakeholders.

  1. Rekam Jejak Keuangan Berkelanjutan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan lembaga lain untuk menyiapkan roadmap keuangan berkelanjutan bagi perusahaan di tanah air. Roadmap tersebut akan menjadi prioritas dalam instrument pinjaman berkelanjutan seperti sektor sumber energi yang dapat diperbaharui, pertanian, manufaktur, infrastruktur, serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Target roadmap keuangan berkelanjutan adalah peningkatan transparansi dalam lembaga jasa keuangan yang ditunjukkan dalam laporan keberlanjutan perusahaan.

  1. Pelaporan Terpadu

International Integrated Reporting Council (IIRC) menerbitkan kerangka pelaporan terpadu internasional yang membawa enam aspek penting, yaitu keuangan, manufaktur, sumber daya manusia (SDM), intelektual, hubungan sosial dan alam.

  1. Bursa Saham dan Indeks Berkelanjutan

Sustainable Stock Exchanges (SSE) merupakan program kemitraan antara PBB, organisasi yang di dukung oleh PBB, investor, perusahaan, bursa saham, regulator dan pemerintah. SSE memiliki inisiatif menjadi platform bursa efek yang dapat meningkatkan transparansi perusahaan pada isu-isu lingkungan, sosial dan tata kelola. Transparansi tersebut diharapkan dapat mendorong investasi berkelanjutan.

Selain itu, Dow Jones Sustainability Index (DJSI) melakukan evaluasi terhadap 2.500 perusahaan besar dunia. Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerjasama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) membuat indeks keberlanjutan yang disebut indeks Sri Kehati.

  1. Tekanan Stakeholders

Berdasar penelitian yang dilakukan oleh EY Indonesia, saat ini para investor mulai memperhatikan aspek non-keuangan pada perusahaan. Perkembangan tentang aspek non-keuangan tersebut juga sering digunakan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan. Pemberian kredit akan dipermudah bagi perusahaan yang dapat menyampaikan laporan keberlanjutan secara transparan. Hal inilah yang menjadi motivasi perusahaan untuk lebih terbuka dalam memberikan informasi tentang aspek non-keuangan.

Transparansi laporan keberlanjutan juga akan mendorong sistem internal perusahaan untuk mengupayakan strategi bisnis terbaik. Sehingga perusahaan yang punya rekam jejak yang baik memiliki peluang untuk memenangkan persaingan pasar.

Standar Penyusunan Laporan Keberlanjutan Untuk Sektor Energi

penyusunan laporan keberlanjutan sektor energiSemakin meningkatnya kebutuhan akan pembangunan berkelanjutan atau konsep tanggung jawab sosial mengakibatkan kebutuhan penyusunan sistem pelaporan untuk menunjukkan metode dan hasil penerapan perusahaan.

Standar pelaporan non finansial yang paling banyak digunakan adalah standar GRI. Secara global, standar GRI menjadi standar pelaporan laporan keberlanjutan (termasuk laporan keberlanjutan untuk sektor energi) dan tanggung jawab sosial perusahaan. Standar tersebut secara sukarela digunakan oleh perusahaan untuk mempersiapkan laporan menyeluruh yang terkait dengan aspek non finansial pada operasional perusahaan.

Di dalam standar GRI juga terdapat prinsip-prinsip dan indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur dan melaporkan kegiatan perusahaan di area ekonomi, lingkungan dan sosial.

https://www.pexels.com/id-id/foto/langit-awan-kekuasaan-listrik-157827/

https://www.pexels.com/id-id/foto/barang-kaca-benda-kaca-biru-bohlam-1036936/





Business Relation kami siap menjawab pertanyaan Anda.

Hubungi Sooca Segera





Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.