Contoh kerangka kerja GCG

Contoh Kerangka Kerja GCG (Good Corporate Governance)

Sebelum menerapkan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG), perusahaan perlu membuat semacam rencana atau kerangka kerja. Nantinya, kerangka kerja GCG ini disesuaikan dengan sektor bisnis yang digeluti oleh perusahaan.

Bak membangun bisnis yang juga memerlukan perencanaan, penerapan GCG juga didasari atas perencanaan matang. Penyusunan kerangka kerja GCG inilah yang menjadi bagian perencanaan sebelum mulai menerapkan GCG di sebuah perusahaan. 

Hal ini penting guna menghindari perusahaan dari kesalahan fatal di kemudian hari yang dapat mengganggu keberlangsungan perusahaan itu sendiri. Oleh sebab itu, kerangka kerja GCG sebaiknya tersusun secara detil dan sistematis.

Related post: Definisi Good Corporate Governance

Contoh Kerangka Kerja GCG (Good Corporate Governance)

Contoh kerangka kerja GCG
Sumber: Freeimages.com

Kerangka kerja GCG dapat dimulai dengan memahami organ-organ yang harus terdapat di dalamnya. Dengan kata lain, Good Corporate Governance meliputi hal penting yang tak boleh terlewatkan. Berikut adalah contoh kerangka kerja GCG

  • Rapat Umum Pemegang Saham 

Setiap  tahun,  perusahaan  mengadakan  Rapat  Umum  Pemegang  Saham (RUPS) untuk melaporkan  kinerja  dan  tata  laksana  keuangan  untuk  tahun  buku yang telah berjalan. RUPS ini bertujuan antara lain untuk mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham serta penunjukan akuntan publik. 

  • Dewan Komisaris 

Dewan  komisaris  bertugas  untuk  melaksanakan  fungsi  pengawasan terhadap direksi.

  • Direksi 

Direksi  diharuskan  menjalankan  tugasnya  secara  profesional  dan  memenuhi sistem  serta  prosedur  yang  telah  ditetapkan  sesuai dengan  anggaran  dasar perusahaan.

  • Komite 

Komite-komite dibentuk oleh dewan komisaris. Tugasnya untuk memenuhi ketentuan yang berlaku. Komite bisa bermacam-macam, misalnya Komite Audit, Komite Remunerasi dan lain-lain. 

  • Satuan Pemeriksa Internal (SPI) 

SPI dapat memberikan jasa audit (assurance) dan konsultasi. Bersifat independen, SPI diharapkan menjalankan tugasnya secara objektif. 

Setelah memahami organ-organ dalam corporate governance, maka dapat disusun kerangka kerja implementasi GCG. Kerangka kerja GCG harus menjamin adanya arahan, bimbingan, dan pengaturan yang strategis atas jalannya operasional maupun finansial perusahaan, pemantauan, dan pengawasan yang efektif. Kerangka kerja juga disusun dengan memberi ‘ruang’ pertanggungjawaban direksi kepada perusahaan dan pemegang saham.

Prinsip-Prinsip GCG
Sumber: Freeimages.com

Sebuah perusahaan dapat menyusun kerangka kerja yang sesuai dengan kondisi internal maupun bidang usahanya. Salah satu contoh kerangka kerja implementasi GCG dapat disimak di bagan di bawah ini.

Pada bagan di atas, RUPS, dewan komisaris, dan direksi memegang peranan vital dalam penerapan prinsip-prinsip GCG. Maka, RUPS, dewan komisaris, dan direksi disebut sebagai Organ Utama corporate governance

Peter Wallace dan John Zinkin (2005) menyebut Organ Utama ini sebagai “The three Key Governance Rules”. Lebih lanjut mereka menyatakan, “Each party brings to the table the requisite balance of skills and wisdom, complementing each other’s strengths and weaknesess”. Jadi, Organ Utama merupakan penentu ‘hitam-putih’ sebuah perusahaan.

Bacelius Ruru (2002) menegaskan, efektivitas peran dan fungsi Organ Utama di sebuah perusahaan merupakan kata kunci yang menjadi penentu sukses atau tidaknya implementasi GCG.

Oleh karena itu, penting untuk membangun stuktur dan/atau mekanisme governansi Organ Utama di sebuah perusahaan sehingga Organ Utama dapat menjalankan fungsinya sesuai ketentuan yang berlaku. 

Penentuan dewan komisaris dan direksi dilakukan melalui RUPS. Meski begitu, dewan komisaris dapat menggantikan direksi sementara waktu dalam situasi tertentu. 

Dalam menjalankan tugasnya, Organ Utama ini dibantu oleh Organ-organ Pendukung. Organ-organ Pendukung ini bisa tersebar di dewan komisaris, misalnya Komite-komite komisaris. Selain itu, Organ Pendukung juga bisa ditempatkan di tingkatan direksi atau manajemen, contohnya Komite-komite direksi, sekretaris perusahaan, SPI, dan Divisi Compliance. Yang jelas, Organ Pendukung ini harus dibentuk dengan mempertimbangkan atau berdasarkan kompleksitas bisnis yang dihadapi suatu perusahaan. 

Kerangka Kerja implementasi ini juga perlu didukung dengan pedoman (code), piagam (charter), kebijakan dan prosedur (SOP). Ketiganya ini harus ditaati oleh baik Organ Utama, Organ Pendukung maupun seluruh sumber daya manusia (SDM) di dalam sebuah perusahaan. Code, charter, dan SOP ini merupakan acuan dalam menjalankan tugas dan fungsi Organ Utama, Organ Pendukung, dan segenap SDM di perusahaan tersebut. 

Jasa Pembuatan Pedoman Tata Kelola Perusahaan
Sumber: Freeimages.com

Satu hal penting lainnya ialah setiap organ harus memiliki independensi ketika melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, semata-mata demi kepentingan perusahaan. Organ Utama dan Organ Pendukung harus berjalin beriringan dalam menjalankan fungsinya sehingga membentuk GCG infrastructure dan sekaligus menjadi ‘kepanjangan tangan’ perusahaan saat menerapkan GCG sehari-hari. 

Demikianlah contoh kerangka kerja GCG yang diringkas secara singkat. Semoga dapat menjadi acuan awal bagi Anda yang ingin mulai menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Apabila perusahaan Anda membutuhkan jasa pembuatan pedoman tata kelola perusahaan yang profesional, Sooca Design siap hadir untuk membantu.

 

Sumber:

  • media.neliti.com/media/publications/23409-ID-implementasi-good-corporate-governance-di-indonesia.pdf 
  • www1.merdekacoppergold.com/tata-kelola/ 
  • annualreport.id/kiat-strategi/gcg-dalam-struktur-organisasi-perusahaan 

GRATIS Mini Course

Kategori